Latest Entries »

“KETEGARAN PAK KASMIN”

INSPIRASI HARI INI; SEBUAH SEMANGAT PANTANG MENYERAHImage

 

Tersentuh hatinya, menangislah mahasiswi itu menyaksikan Pak Kasmin. Lelaki tanpa kaki, yang menaklukkan kejamnya ibukota dengan perjuangan berulas senyum. Bukan dengan mengemis atau meminta-minta, tapi berjualan madu dan produk herbal.

Simpati boleh, tapi jangan coba memperlakukan Pak Kasmin seperti pengemis. Dia pantang meminta-minta belas kasihan. Penampilannya wajar, tidak didramatisir seperti yang banyak dilakukan para pengemis.

Seperti siang itu, di jembatan penyeberangan PAL Putih, Kramat Raya, Jakarat Pusat, Kasmin (36) tengah melayani seorang pemuda yang hendak membeli parfumnya. Wajahnya ceria dengan senyum selalu mengembang. Tanpa banyak acara, si pemuda segera membeli sebotol parfum darinya.

‘’Assalamu’alaikum Pak Ustadz, gimana kabarnya Pak?’’ ucap Kasmin spontan ketika melihat kehadiran Irwan dari LAZIS Dewan Dakwah. Setelah bertukar kabar, dengan profesional mempersilakan Kasmin mempersilakan Irwan melihat-lihat dagangan di lapaknya. ‘’Barangkali ada yang Bapak perlukan,’’ katanya.

Sejenak memilih, lalu menanyakan harganya, Irwan kemudian membeli sebotol madu.

Kasmin menuturkan, ia mulai berjualan di Jakarta sekitar 8 tahun lalu. Pria yang indekos di daerah Kramat Sentiong, Jakarta Pusat, ini membuka lapak kecil dari masjid ke masjid. Tempo-tempo juga mangkal di jembatan Pal Putih. Kadang juga di depan gedung sebuah sekolah tinggi di kawasan Kwitang, Senen.

Berdagang sejak pukul delapan pagi hingga sore, rejeki Kasmin tak menentu. ‘’Tapi alhamdulillah, rejeki ada saja,’’ katanya sambil tersenyum. Jelang dan selama Ramadhan ini, ia bersyukur rejekinya lebih mudah datang. Ia mengungkapkan, pernah ada yang memborong madu dan obat-obatan dagangannya. ‘’Pernah juga ada yang membeli farfum sampai 10 botol, katanya buat persiapan Ramadhan,’’ ujar Kasmin. Namun, sering juga seharian hanya laku 1 botol parfum, bahkan tidak terjual sama sekali.

Begitupun, Kasmin tetap istiqomah berjualan untuk menghidupi istri dan anaknya yang tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah, kampung halaman mereka. Kasmin memiliki seorang anak yang sudah berusia 7 tahun. Sang istri saat ini tengah mengandung anak kedua.

Ketika ditawari bantuan tambahan modal, Kasmin bersedia namun dengan syarat. ‘’Boleh Pak, tapi ini pinjaman ya, jangan pemberian. Saya juga bersedekah dari sebagian hasil keringat saya sendiri,’’ katanya tegar.

Sebuah teladan yang luar biasa ditunjukkan oleh sosok sederhana Pak Kasmin, si orang kecil, sebuah tawaran pemberian modal ditolaknya. ia punya “pride”. ia memilih dipinjami. sedangkan disudut sana, orang-orang berpendidikan sangat tinggi, dengan jabatan tinggi, tidak sungkan-sungkannya menerima “amplop” sangat tebal, malah dibungkus dalam kardus, dengan sebutan gratifikasi….

Indonesia butuh orang-orang dengan semangat dan kehormatan seperti Pak Kasmin….

Advertisements
“…Kisah seorang minta-minta
Yang hampir-hampir meninggal dunia
Di satu pinggiran jalan yang sepi
Perut kelaparan terasa nyeri

Terdengar Tangisan merana
Si buyung yang selalu dibawa-bawa
Yang tak pernah kenal akan bapaknya
Tak seorangpun sudi menolongnya
Ooh Kasihan DiaHanya minta-minta
Demi kasihnya pada anaknya

menghadap saat akhirnya
dia berdoa pada Tuhan yang Esa
agar sudi melimpahkan rahmat-Nya
kepada anak yang ditinggalkannya

Tak tahan menanggung derita
pengemis itupun meninggal dunia
diiringi tangis sedih anaknya
tak seorangpun sudi menolongnya

Oh.. kasihan dia siapa yang menolongnya
insan pengasih ulurkan tanganmu….”Image

Lirik lagu di atas sangat tenar disenandungkan oleh Iin Parlina dari grup Bimbo, dan Tetty Kadi. Lirik ini saya salin karena beberapa hari lalu membaca berita di koran tgl 3 Mei, di Kendal Jawa Tengah, ditemukan seorang wanita tuna wisma paruh baya meninggal dengan tubuhnya yang kurus, diduga meninggal karena kelaparan.

Kejadian serupa pernah terjadi di Jakarta tahun 2011, sesosok mayat pria tanpa identitas ditemukan di bawah jalan layang (fly over) Pancoran, Jakarta Selatan, tepatnya ke arah Slipi, Sabtu (kompas, 4/6/2011). Dan juga di bawah FO Tanah Abang Maret 2011. Diduga, mereka tersebut adalah pemulung yang kelaparan hingga tewas.

Sungguh tragisdan memilukan !!! Ada manusia meninggal di zaman reformasi ini karena kelaparan, bukan karena mereka tinggal di tengah gurun pasir yang sunyi yang tidak ada makanan, atau di puncak gunung sepi yang habis meletus, tandus kering kerontang. Tapi ini di tengah keramaian orang, di kota, apalagi yang di Jakarta, dimana jutaan orang berlalu lalang, bahkan banyak yang minum dan makan bukan lagi sekedar untuk mengenyangkan dan menyehatkan tubuh, tapi untuk kesenangan dan gaya hidup. Apakah mereka, mungkin tremasuk kita, memang luput melihat penderitan orang lain, atau memang kepedulian sosial sebagian besar masyarakat kita sudah sangat menipis sehingga mata zahir dan batin kita buta.

ALLAH HADIR, TAPI KITA TIDAK MENYADARI

Sahabatku yang dirahmati Allah, mari coba perhatikan sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini:” Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di hari kiamat,” Wahai anak Adam, dulu Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku.” Manusia bertanya,” Tuhanku, bagaimana kami dapat menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?”

Allah menjawab,” Tidak tahukah engkau bahwa si fulan sakit, tetapi engkau tidak menjenguknya? Tidak tahukah engkau jika engkau menjenguknya, engkau pasti dapati Aku ada di sisinya.”

Allah berfirman lagi,” Wahai anak Adam, dulu Aku minta makan kepada engkau tetapi engkau tidak memberi Aku makan.”

Manusia bertanya,” Tuhanku, bagaimanakah aku dapat memberi-Mu makan sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?”

Allah menjawab,” Tidak tahukah engkau bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu dan engkau tidak memberinya makan? Tidak tahukah engkau bahwa jika engkau memberinya makan, engkau pasti dapati ganjarannya ada di sisi-Ku.”

Allah berfirman,” Wahai anak Adam, dulu Aku minta minum kepadamu dan engkau tidak memberi-Ku minum.”

Manusia bertanya,” Tuhanku, bagaimanakah aku dapat memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?”

Allah berfirman,” Hamba-Ku fulan meminta minum padamu dan engkau tidak memberinya minum. Apakah engkau tidak tahu bahwa seandainya engkau berikan ia minum engkau pasti dapati ganjarannya ada di sisi-Ku.” ( HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)

Cermati hadits Rasulullah SAW diatas dengan seksama, Allah SWT bersama orang-orang yang menderita, kepiluan hati mereka adalah kepiluan Tuhan. Rintihan mereka pada manusia adalah suara Tuhan. Tangan mereka yang menengadah adalah tangan Tuhan. Ketika seseorang memberikan sedekah kepada fakir miskin atau seseorang memberikan bantuan atas kesulitan orang lain, sebelum sedekah dan sebelum pertolongan tersebut sampai di tangan orang yang membutuhkan, tangan Tuhanlah yang pertama-tama menerimanya.

Tapi seringkali sadar atau tidak disadari kita menepis “Tangan” Tuhan, dengan menepis “tangan-tangan” mereka kaum dhuafa yang menengadah memohon sekedar untuk makan.

Karena itu, bila ada seseorang yang datang atau menghubungi kita meminta suatu pertolongan dan kita mengetahui bahwa kita mampu memberikan pertolongan yang diminta, maka segeralah berikan pertolongan. Barangsiapa yang menolong sesamanya, maka Allah akan menolongnya dari kesulitan dunia akhirat, begitu pesan Nabi kita.

Janganlah mengundang kesulitan dalam hidup kita, jangan mempersulit urusan kita, dan jangan mengundang azab dan murka Allah. Tapi undanglah kemudahan, kelapangan urusan dan hidup, cinta, kasih sayang dan pertolongan dari Allah, dengan memberikan bantuan, pertolongan kepada orang yang membutuhkannya. Mereka tersebar di gerobak2 jalanan, kolong jembatan, emperan toko dan pasar, di gubuk2 reyot, di panti asuhan, di lorong rumah sakit, bahkan mereka sering lalu lalang di hadapan kita, tapi kita tidak melihat.

DAHSYATNYA MENOLONG SESAMA

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim0

Apabila kita mengetahui bahwa sebenarnya kita mampu berbuat sesuatu untuk menolong kesulitan orang lain, maka segeralah lakukan, segeralah beri pertolongan. Terlebih lagi bila orang itu telah memintanya kepada kita. Karena pertolongan yang kita berikan, akan sangat berarti bagi orang yang sedang kesulitan.

Cobalah bayangkan, bagaimana rasanya apabila kita berada di posisi orang yang meminta pertolongan pada kita, Dan sungguh Allah SWT sangat mencintai orang yang mau memberikan kebahagiaan kepada orang lain dan menghapuskan kesulitan orang lain.

Berikut beberapa hadits yang menerangkan tentang keutamaan menolong dan meringankan beban orang lain:

(1) Pada suatu hari Rasululah SAW ditanya oleh sahabat beliau : “Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah dan apakah perbuatan yang paling dicintai oleh Allah ? Rasulullah SAW menjawab : “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan kepada mereka yang sedang kelaparan dan jika seseorang itu berjalan untuk menolong orang yang sedang kesusahan itu lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjidku ini selama satu bulan ” ( Hadits riwayat Thabrani ).

(2) Setiap gerakan pertolongan merupakan nilai pahala ” Siapa yang menolong saudaranya yang lain maka Allah akan menuliskan baginya tujuh kebaikan bagi setiap langkah yang dilakukannya ” (HR. Thabrani ).

(3) Memberikan bantuan juga dapat menolak bala, sebagaimana dinyatakan ” Sedekah itu dapat menolak tujuh puluh pintu bala ” (HR Thabrani ). Pertolongan Allah kepada seseorang juga tergantung dengan pertolongan yang dilakukannya antar manusia. “Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba-Nya selama hamba itu menolong orang yang lain”. (Hadits muslim, abu daud dan tirmidzi)

Oleh karena mengetahui akan dahsyatnya faedah berbagi dan menolong sesama, maka ringankan tangan, buka dompet Anda untuk berbagi, berinfaq, bersedekah, baik sendiri-sendiri maupun berkelompok. Niscaya Anda akan menjadi pribadi yang selalu beruntung karena Allah menyayangi Anda.

Komunitas Cerah Hati setiap Jum’at mengadakan aksi berbagi nasi bungkus. Silakan Anda berbagi apa saja, baik itu makanan dll, juga di lingkungan Anda serta mengajak saudara, teman atau siapa saja. “Khoirunnas anfa’uhum linnas” (Manusia yang terbaik adalah yang memberi manfaat bagi orang lain.)

Gabung dengan Komunitas Cerah Hati Berbagi, hubungi : 081385125250, pin BB 2914BFE3

Sudah 2 Jum’at ini, Komunitas Cerah Hati (KCH) mengisi acara Talkshow Inspirasi Pagi di Radio RRI Pro 1, 91,2 FM Jakarta, membincangkan kegiatan berbagi Komunitas Cerah Hati yang dinamakan,”Jum’at Berbagi Nasi Bungkus.” Program berbagi ini ditujukan untuk mengedukasi para Sahabat KCH dimanapun berada, mengenai manfaat, dahsyatnya dari amal soleh yang dinamakan  sebagai “Berbagi.” Program ini tidak terasa sudah memasuki bulan ke 4, yang diadakan setiap hari Jum’at sebelum dan sesudah Shalat Jum’at, setelah pada awalnya pada bulan Februari didahului dengan Gerakan “Seminggu Berbagi Nasi Bungkus.”

Menurut Produser acara ini, respon dari pendengar amat baik, yang mana ditunjukkan dengan banyaknya sms interaktif yang masuk, bahkan ada beberapa sms yang masuk sebelum Narasumber dari KCH, Kang Danu, memulai acara.

ImageDi acara tersebut, Kang Danu menyampaikan mengenai dasar dari perintah untuk berbagi. Berbagi dalam terminologi Islam dikenal dengan Infaq, Sedekah. Infaq dan sedekah artinya sama-sama berbagi, tetapi bedanya kalau infaq berbagi dalam bentuk materi, seperti menyumbang semen, keramik, karpet ke Masjid, uang tunai, aspal, dll. Sedang sedekah berbagi dalam bentuk materi dan non materi. Non materi seperti senyuman, tenaga untuk kerja bakti, sumbang saran pikiran dsb.

Sedekah adalah perintah Allah dan Rasul-Nya kepada segenap muslimin. Banyak ayat di dalam Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah yang memerintahkannya dan menyebutkan banyak keutamaan atau faedah sedekah. Perintah berbagi langsung Allah anjurkan kepada hamba-Nya dalam sebuah Hadits Qudsi :” Allah SWT berfirman Hai anak Adam berinfaklahniscaya Aku akan memberi nafkah (memberi gantinya) kepadamu”. (HRBukhari & Muslim) Jadi kalau ingin mendapat rezeki atau nafkah, jangan kalau setelah dapat rezeki (lebih) baru bersedekah atau berinfaq, justru kalau mau mendapat rezeki dan rezeki berlebih, berinfaq dulu. Ini yang dinamakan hukum sebab akibat.

Kemudian dijelaskan manfaat dari berinfaq, bersedekah dan berbagi, yaitu, mengundang datangnya rezeki, menyembuhkan penyakit, menolak bala dan memperpanjang umur.

Sedekah juga merupakan jawaban atau solusi dari berbagai permasalahan hidup, seperti mendekatkan jodoh, memancing hadirnya keturunan, menyelesaikan permasalahan keluarga, usaha, pekerjaan, berbagai harapan serta keinginan dan lain sebagainya.

Respon dari pendengar acara ini antara lain mereka menceritakan manfaatnya berbagi, khususnya berbagi nasi bungkus.

Gerakan berbagi nasi bungkus ini sudah diikuti tidak hanya di Jakarta saja, seperti di Pondok Labu, Bintaro, Sudirman, Cibubur, tetapi juga di beberapa kota lainnya seperti di Balikpapan, Malang, Yogyakarta, Bandung. Komunitas Cerah Hati tidak menekankan berbagi nasi bungkus ini tersentral, tapi justru mengembangkan inisiatif untuk berbagi nasi bungkus ini di lingkungan masing-masing.

Pesan penutup di akhir talkshow, seperti yang diwasiatkan oleh Rasulullah,”Beli semua kesulitanmu dengan sedekah.”

Ba’da Jum’at itu, seorang kakek tertatih-tatih mendaki undak-undakan Gedung Menara Dakwah menuju Kantor LAZIS Dewan Da’wah di lantai satu. Setelah meletakkan karung bawaan di depan pintu kantor yang dituju, ia coba membuka pintu kaca. Pintu itu sebenarnya ringan saja, tapi tidak untuk lelaki berusia 64 tahun yang mengidap asam urat di kakinya. Maka, Ruslan Burhan, staf LAZIS Dewan Da’wah membantunya membukakan pintu dari dalam.

‘’Assalamu ‘alaikum, saya ke sini seharusnya untuk menyicil pinjaman. Tapi rejeki hari ini rupanya hanya cukup untuk makan di rumah. Jadi saya minta maaf, kali ini belum bisa mengangsur. Tapi insya Allah nanti akan saya lunasi,’’ tutur Mohammad Rasul, kakek itu, dengan nafas agak tersengal.

Ruslan dan Irwan terkesiap menyimak penuturan tamunya. ‘’Nggak apa-apa Pak Rasul, sudah minum saja dulu,’’ Irwan mempersilakannya meminum air kemasan yang tersedia di meja.

Dua pekan sebelumnya, kakek dua cucu asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat, ini datang untuk minta bantuan tambahan modal berdagang kaki lima. Ia pedagang paling tua di antara belasan pedagang pasar kaget setiap Jum’at di halaman belakang Masjid Al Furqon Jl Kramat Raya 45 Jakarta Pusat.

Sebelum berjualan alat-alat tulis seperti saat ini, sang perantau pernah berdagang pakaian dan membuka warung makan. ‘’Rupanya rejekinya di jualan alat-alat tulis ini,’’ kata Pak Rasul terkekeh.

Setiap hari, Pak Rasul yang tinggal tak jauh dari Gedung Menara Dakwah, mulai kerja kala pagi masih buta. Selepas shalat shubuh, dengan diantar ojek langganannya, ia menuju ke sekolah di sekitar Jalan Kenari. Di pelataran sekolah itu ia menggelar dagangannya hingga jelang Dzuhur.

“Kadang sehabis shalat Dzuhur saya lanjutkan jualan. Soalnya, ada sebagian sekolah yang bubaran sekitar jam setengah tiga atau jelang Ashar,” tutur Pak Rasul.

Khusus hari Jum’at, Pak Rasul menggelar lapak dagangannya di halaman belakang Masjid Al Furqon.

Selepas Ashar, ia pulang untuk istirahat. Ba’da Isya, Pak Rasul mengasongkan dagangannya di seputar perempatan Kramat Sentiong, di depan Hotel Acacia Jakarta Pusat.

Demi sepuluh-duapuluh ribu rupiah, kakek yang berjalan pincang itu berkelahi dengan kesemrawutan padatnya lalu lintas. Saat traffic light hijau, Pak Rasul minggir dan bersiaga di tempat. Begitu lampu merah menyala, ia tergopoh-gopoh mendatangi satu persatu mobil pribadi dan angkot yang berhenti untuk menawarkan dagangan.

Jelas, buat Pak Rasul, mencari rejeki dengan cara semacam itu ibaratnya ia tengah menyabung nyawa. Tahu sendiri betapa ganasnya lalu lintas ibukota.

“Ya memang bahaya, tapi Alhamdulillah selama ini Allah SWT masih memberi kemudahan dan keselamatan. Habis bagaimana lagi,” tutur pak Rasul sambil tersenyum kecut.

Begitulah, seperti diibaratkan oleh James Scott, ‘’Orang miskin selamanya berdiri terendam dalam air sampai ke leher, sehingga ombak kecil sekalipun sudah cukup untuk menenggelamkannya”.

Lewat tengah malam, barulah Pak Rasul pulang, membawa penghasilan yang tak menentu. Kalau sedang laku, dalam sehari ia dapat membawa pulang penghasilan kotor sekitar Rp 80 ribu.

Namun, Pak Rasul mengaku kadang mendapat rejeki nomplok yang tak disangka (min haitsu laayahtasib).  ‘’Saya pernah mengantongi uang sampai Rp 800.000 dalam sehari,’’ katanya dengan sumringah. Itu terjadi hingga tiga kali, ia menambahkan.

Pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin bahwa rejeki sudah diatur Allah SWT. Keyakinan ini membuatnya legowo dan bersyukur menerima berapapun hasil usaha jualannya.

“Alhamdulilah, berapapun hasilnya selama ini saya bisa bertahan hidup mandiri dari usaha ini,” kata si kakek berjanggut.

Ia menuturkan, walau sudah tua dan sakit, tidak mau menggantungkan hidup pada keluarganya dan orang lain.

“Saya nyaman dan tentram dengan berusaha sendiri, berjualan. Bukan mengemis atau meminta-minta,’’ katanya, menyiratkan naluri saudagar urang awak yang pantang menyerah.

Maka, ketika LAZIS Dewan Da’wah bermaksud memenuhi permintaannya dengan memberi tambahan modal, Pak Rasul maunya pinjam saja.

‘’Saya tidak mau diberi, saya maunya pinjam. Nanti saya kembalikan dengan mengangsur,’’ katanya tegas.

Pak Rasul niscaya mengingatkan kita semua kepada wasiat Rasulullah SAW. “Carilah ridhoku melalui orang-orang dhuafa di antara kalian. Karena sesungguhnya, kalian diberi rejeki dan ditolong lantaran orang-orang lemah di antara kalian,” kata Nabi Muhammad SAW (HR. Imam Ahmad,  Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Abu Darda’ ra, dalam Kitab Al-Musnad 5/198)

Orang dhuafa dimaksud adalah ‘’Orang yang tidak mendapati kebutuhan yang mencukupi buatnya, tapi orang lain tidak tahu karena dengan kesabarannya dia menyembunyikan keadaannya dan tidak meminta-minta. Dia akan diberi sedekah tanpa perlu meminta’’ (HR Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah ra).

pedagang alat tulis emperan

INSPIRASI DARI HAL KECIL

Seringkali orang, atau bahkan kita, mencari inspirasi untuk mengkreasikan sesuatu, mencari dari hal besar atau dari pengalaman orang “besar.” Dan seringkali pula kita melewatkan hal-hal kecil dan sederhana untuk dijadikan inspirasi.

Ada penemuan praktis yang sangat terkenal, datang dari seorang pelukis gagal yang kemudian dikreatifkan oleh seorang sekretaris. Penemuan itu bermula karena persoalan sepele. Setiap salah mengetik, ia selalu merasa kesulitan memperbaiki. Bayangkan, semenjak mesin tik ditemukan 1714, oleh Henry Mill di Inggris dan dikembangkan Thomas Alva Edison menjadi mesin tik elektrik, belum ada yang memikirkan untuk menciptakan suatu alat yang bisa menghapus kesalahan dalam pengetikan.

Bette Graham, sekretaris eksekutif di Texas Bank & Trust di Dallas.  Pekerjaannya yang memerlukan kecepatan dan ketelitian membuatnya sering melakukan kesalahan dalam pengetikan pada mesin ketik elektrik. Kesalahannya ini juga terjadi pada rekan kerjanya di kantor.

Suatu hari  ia melihat pelukis yang menumpuk warna sebuah gambar dengan cat lain. Kemudian, ia terinspirasi untuk menciptakan sesuatu yang bisa menutupi kesalahan dalam pengetikan di kertas. Sebagian literatur menyebutkan, Bette Graham meracik liquid paper dengan memblender cat tempura yang disesuaikan dengan warna kertas dan dimasukkan ke dalam botol-botol kecil agar mudah dibawa ke mana-mana. Cairan tersebut dioleskan di atas tempat kesalahan tik. Untuk mengoleskan cat ramuannya, ia menggunakan kuas kecil.

Sebelum dikomersilkan oleh penciptanya, cairan ini dikenal dengan nama Mistake Out. Karya sederhana Bette Graham cukup membantu dalam menyelesaikan pekerjaan yang bertumpuk setiap hari. Ide briliannya ini banyak diminati oleh pekerja kantor dan sekretaris. Untuk menghasilkan uang atas temuannya ini, ia mulai belajar metode promosi dan pemasaran. Tanpa lelah, Bette terus melakukan penelitian hingga cairan korektor yang dibuatnya semakin sempurna.

Setelah beberapa tahun menyempurnakan temuannya, Bette Graham mulai berani menawarkan Mistake Out kepada perusahaan IBM yang saat itu merajai bisnis peralatan kantor. Namun, usahanya ini gagal. IBM menolak dengan alasan Mistake Out tidak memiliki nilai jual. Namun, hal itu tidak melemahkan semangat Bette Graham. Ia kemudian mendirikan usaha Mistake Out Company di rumahnya. Belum lama usahanya berdiri, Bette Graham mendapatkan cobaan yang berat. Ia dipecat dari pekerjaannya karena sebuah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Nasib buruk ini, ia manfaatkan untuk memasarkan produk buatannya itu.

Dengan modal seadanya, Bette Graham mempromosikan dan memasarkan cairan penutup kesalahan ketikan. Bahkan untuk meningkatkan nilai jual, Bette Graham mengganti nama Mistake Out menjadi Liquid Paper (yang kita kenal dengan Tipp Ex, yang buatan Jerman) dan tetap memproduksi serta menjual produk itu dari dapur dan garasinya hingga 17 tahun berikutnya. Order terbesar pertamanya terjadi pada tahun 1962. Seorang pedagang asal San Antonio memesan banyak produknya.

Pada tahun 1967, perusahaannya itu menjadi perusahaan besar dan berhasil memasok produknya ke 31 negara. Bahkan, perusahaan yang kemudian diberi nama Liquid Paper itu pada tahun 1976 sudah mampu menghasilkan keuntungan bersih lebih dari 1,5 juta dolar AS. Tahun 1979, Gillette Corp. membeli seluruh perusahaan Bette dan paten Liquid Paper senilai 47,5 juta dolar AS dan royalti dalam setiap penjualan botolnya.

Bette Nesmith Graham meninggal pada 1980 saat berusia 56 tahun. Ia dimakamkan di tempat kelahirannya di Dallas, Texas. Meskipun Liquid Paper sudah jarang dipergunakan, namun karya sederhana Bette Graham tetap dikenang hingga sekarang.

So, jangan meremehkan hal kecil, yang mungkin bisa mendatangkan keberhasilan atau sukses besar. Lihatlah sekeliling, jadikan sesuatu yang ada di sekitar kita sebagai inspirasi, kemudian olah dan kerjakan dengan sungguh-sungguh, sehingga akan dipetiklah keberhasilan itu.

Bukankah banyak usaha yang tumbuh besar timbul karena idea atau inspirasi sederhana. Coba lihat Kripik Pedas “Mak Icih” , “Pecel Lele Lela”, “Kebab Turki Baba Rafi” dsb.

Man Jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan memetik keberhasilan.

Semoga bermanfaat, nantikan inspirasi berikutnya.

CERAH HATI LIFE MANAGEMENT

(Rumah Inspirasi dan Motivasi)Image

Alkisah, seorang warga di suatu daerah yang yang kaya raya pada suatu malam  melakukan pesta kebun besar besaran  dengan mengundang hampir seratus orang rekan, sahabat, dan warga lain di lingkungannya.  Hajatan itu bertujuan untuk mencari jodoh putri semata wayangnya. Tidak heran, jika yang diundang  kebanyakan keluarga-keluarga yang memiliki anak yang beranjak dewasa. Disamping itu, banyak juga pemuda yang turut hadir.

Sementara senja beranjak ke peraduannya memasuki  malam yang dingin. Setiap tamu yang hadir dimanjakan dengan berbagai macam khas makanan daerah tersebut, seperti semur ikan patin dan gule kambing dengan tempoyak.  Sebagai penutup , selain menyuguhkan tarian khas, si tuan rumah juga telah menyiapkan  kolam yang diisi dengan ular berbisa dan buaya.  Tuan rumah menantang para tamunya untuk berenang menyeberangi kolam yang ada di hadapan mereka.

Barangsiapa yang berhasil sampai berenang ke seberang kolam, ia akan diberi tiga opsi pilihan hadiah yang dapat mereka pilih.

Yang pertama, berhak menikahi putri semata wayangnya dengan segala hak warisnya.

Kedua, memperoleh seratus ribu hektar kebun kelapa sawit yang saat ini siap panen.

Ketiga, berhak atas uang tunai sebesar 100 juta rupiah plus  seperangkat perhiasan emas dan berlian.

Tantangan yang menggiurkan itu bertujuan menjaring calon-calon menantu yang berani dan memiliki dedikasi tinggi terhadap keluarganya.

Belum selesai si tuan rumah  memberi sambutan untuk lomba tersebut, tiba-tiba terdengar bunyi ceburan air yang cukup keras dan disusul oleh gerakan renang yang begitu cepat sepanjang kolam.   Semua mata terpaku, takjub dan heran, siapa gerangan  orang yang begitu antusias untuk mengikuti pertandingan yang dimaksudkan. Akhirnya, orang tersebut sampai ke tepian sambil terengah-engah dengan tubuh penuh dengan goresan-goresan. Dia ternyata seorang pemuda berusia 28 tahun dengan wajah lumayan ganteng.

Sang tuan rumah beserta istri dan putri semata wayangnya  begitu senangnya melihat respon proaktif yang diberikan oleh sang pemuda.

Di hadapan seluruh tamu yang hadir, si pemuda, ditanya hadiah apa yang diinginkan, sesuai pilihan opsi yang diberikan. Si pemuda hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Dengan penasaran tuan rumah bertanya kembali,”Kalau begitu apa yang Anda inginkan?”

Dengan nafas masih terengah-engah, si pemuda menjawab dengan mantap, “saya hanya ingin tahu, siapa yang mendorong saya ke kolam?” (Kalau bahasa Kasino Warkop, “Siape yang ngejorokin gue.”)

Teman dan sahabat, terkadang dalam menjalankan aktifitas sehari-hari, diperlukan dorongan (motivasi) yang kuat untuk membuat seseorang lebih berani dalam upaya dia memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.  Arti mendasar dari dorongan adalah keberanian untuk bertindak.  Pada kenyataannya, banyak, individu yang harus ditakut-takuti terlebih dahulu baru dapat produktif. Seperti ada tipe karyawan yang harus diawasi  dulu baru bekerja secara maksimal. Untuk tingkatan tertentu, hal ini sah-sah saja sesuai dengan  karakter masing-masing keryawan.

Namun,  jika dicermati lebih lanjut, maka sebenarnya hal ini sudah mematikan kreatifitas dan daya saing seseorang sehingga ia tidak ubahnya seperti robot.  Ada lagi tipe karyawan yang bisa bekerja sendiri tanpa harus diawasi secara ketat.  Karyawan demikian telah merasakan proses pemberdayaan yang tinggi dalam unit kerjanya.

Dalam kehidupan keluarga, acapkali ditemukan seorang anak memiliki potensi yang luar biasa untuk mengikuti pelajaran di sekolahnya. Namun kenyataannya nilai rapor yang diterima tidak memuaskan.  Seorang karyawan diketahui melalui pemetaan kompetensi ternyata memiliki kemampuan-kemampuan yang luar biasa untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di unit kerjanya, namun justru  dalam penilaian kinerja semesteran tidak menunjukkan keadaan sebenarnya.

Oleh karena itu, orang tua mau pun pemimpin perlu memberikan “trigger” (pemicu) untuk mereka sadar akan potensi yang dimilikinya.  Acapkali seseorang langsung memvonis “tidak bisa” padahal belum mencoba, atau tidak bersedia sekalipun sudah diberikan berbagai macam peralatan yang memadai.

Pemicu ini dapat berupa dorongan, ancaman dan menakutkan (fear motivation)  seperti ancaman dikenakan sangsi jika tidak menggunakan peralatan pengaman kerja, tidak boleh bermain kalau tidak menyelesaikan PR terlebih dahulu, maupun dorongan inspiratif (inspiring motivation), seperti memberikan arahan/cerita-cerita atau memberikan teladan dengan terlebih dahulu si pemberi tugas melakukannya.

Dorongan-dorongan yang ada dalam  diri untuk berkarya akan mewarnai sejauh mana tingkat profesionalisme seseorang.  Itulah sebabnya seorang professioanl tidak hanya tahu dan ahli terhadap sesuatu, melainkan juga seseorang yang dapat melakukan pekerjaan terbaiknya saat dia merasa tidak ingin melakukannya.

BAGAIMANA  MEMOTIVASI DIRI

“Wa laa tahinuu wa laa tahzanuu wa antumul a’lawna in kuntum mu’miniin.”

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”  (QS Ali Imran [3] : 139)

Sungguh tiada terkira nikmat yang telah Allah berikan kepada umat manusia. Secara syariat, manusia dilengkapi kesempurnaan fisik, kemampuan berfikir, serta sarana yang melimpah ruah yang tersebar di alam semesta ini.  Maka dari itu, sudah seharusnya manusia bersyukur dan menyadari bahwa semua karunia tersebut semata-mata Allah sediakan untuk keperluan ibadah.

Dalam kaitan ini, maka sudah selayaknya pula jika manusia senantiasa memacu diri untuk mampu mempersembahkan yang terbaik dalam hidupnya, yang bermanfaat dalam dunia dan bermakna di akhirat nanti.

Banyak orang yang hidup di dunia tidak memperdulikan apa yang ia lakukan.  Bahkan banyak sekali karunia-karunia Allah yang dititipkan kepadanya, namun tidak sempat diwujudkan menjadi perbuatan yang bermutu dan bermanfaat.

Jika ada yang berkata bahwa umat Islam sekarang tidak bisa unggul dan itu karena memang bukan bibit unggul, maka pernyataan ini tidak sepenuhnya benar.

Bila saat ini kita tidak berbuat sesuatu, agaknya ada beberapa sebab yang perlu kita renungkan bersama.  Memang, banyak sekalai faktor yang dapat menyebabkan manusia menjadi lemah dan allai.  Kendati demikian, faktor yang biasanya lebih dominan justru datang dari dalam diri manusia itu sendiri.

Diantaranya, kita seringkali melemahkan diri sendiri, merasa kalah sebelum berjuang. Ini adalah tradisi yang harus benar-benar diubah.  Kita harus tanamkan pada diri ini bahwa kita harus berprestasi.  Untuk berprestasi, kita harus memompa semangat dan motivasi.

Teman dan sahabat, motivasi diri tampaknya merupakan salah satu faktor yang harus kita tumbuhkan mulai detik ini juga.  Tanpa motivasi positif dalam diri, rasanya akan sulit bagi kita untuk berkembang dan meraih prestasi.

Berikut tersaji  ulasan beberapa hal yang insya Allah dapat membantu dalam membangkitkan motivasi.

1.       MUNCULKANLAH HARAPAN

Prinsip pertama, agar seseorang memiliki semangat yang menggebu sehingga ia mampu berbuat sesuatu adalah adanya kemampuan memunculkan harapan.  Alkisah, ada seseorang yang sanggup bertahan selama dua belas hari dalam gelap gulita di bawah himpitan beton-beton dan reruntuhan sebuah gedung yang roboh.  Ia sanggup bertahan hidup karena  ia berjuang terus untuk bertahan.  Ketika ia mendengar orang yang menumbuk bongkahan beton, ia berharap agar orang tersebut akan segera menemukan dirinya yang sedang terhimpit.

Contoh lainnya, ketika terpuruk dalam sebuah gua yang gelap gulita, dari kejauhan tampak seberkas cahaya.  Keadaan ini menumbuhkan semangat untuk memburu cahaya yang akan memberikan jalan keluar tersebut.  Begitulah, semakin pandai kita membuat harapan-harapan dalam hidup, kita akan semakin tergerak untuk berbuat sesuatu.

Menurut ahli, sebagian manusia tidak pandai membuat harapan.  Mereka bahkan memusnahkan harapan mereka sendiri.  Ketika kita memiliki harapan untuk menikah, untuk memiliki rumah, untuk menjadi seorang pria mulia, seringkali justru kita sendirilah yang memusnahkan harapan-harapan tersebut dengan kelemahan yang kita buat sendiri.  Maka, beruntunglah orang-orang yang pandai membuat harapan yang benar dalam hidupnya.

Ada seorang istri yang menceritakan keadaan rumah tangganya yang begitu pahit dan getir.  Suaminya ternyata adalah seorang laki-laki yang lemah, selalu mabuk.  Ia bekerja tiga hari dan mogok tiga hari.  Akibat mabuk tersebut, hampir semua barang-barang di rumahnya dihancurkan. Bahkan anaknya sendiri hampir saja ditusuk dengan tusukan sate, seolah sudah tidak ada lagi harapan untuk melanjutkan bahtera rumah tangga.  Dalam pikirannya muncul pertanyaan; apakah mungkin ada harapan bahwa sang suami dapat berubah hatinya, sedangkan anak-anak sudah semakin besar dan rumah tangga kacau?

Keadaan semacam ini hendaklah diatasi dengan memunculkan harapan, sebab tidak ada yang sulit bagi Allah untuk membolak-balikan hati seseorang.  Sekarang berlumur dosa, tapi kalau Allah berkehendak, Dia bisa dengan mudah membalikkan hati suaminya itu.    Tidak ada yang  bisa menghalangi kehendak-Nya.

 Sekarang mungkin bergelimang minuman haram, tapi mudah-mudahan besok lusa Allah menurunkan kepadanya rizki yang halal. Yang paling penting adalah berjuang sekuat tenaga, meminta kepada Allah, memperbaiki diri dan bersujud dengan khusyuk kepada Allah sambil berdoa: “ya Allah, saya merindukan keselamatan bagi anak-anak dan rumah tangga, walaupun keadaan rumah tangga saya sekarang seperti ini tapi Engkaulah pembolak balik hati.”

 2.       MENGENAL ALLAH

Orang yang memiliki harapan, akan mampu berjuang mendidik anak dengan baik. Ia akan memiliki daya tahan yang luar biasa, kesabaran yang lebih prima dan akhlak yang lebih mulia.  Inilah sebenarnya yang dibutuhkan kita; umat Islam.

Semua sikap ini akan membuat kita lebih tangguh, lebih tahan, lebih mampu berbuat sesuatu sehingga timbul harapan.  Harapan ini biasanya sangat besar ketika orang tersebut mengenal Allah dan agama-Nya dengan benar.

Imam Ali RA mengatakan bahwa orang yang mengenal Allah dan mengenal kehebatan pertolongan-Nya dengan baik, akan menjadi manusia yang memiliki kekuatan yang berlipat ganda.  Ia tidak pernah gentar menghadapi kesulitan dalam hidup ini.  Sesulit apa pun kesulitannya, akan dihadapi,  karena ia tahu bahwa Allah maha Kuasa dalam berbuat apa pun.

 Pertolongan Allah sangat cepat, lebih cepat dari kilat yang menyambar. Sebaliknya, bagi orang yang tidak mengenal Allah, ia akan pesimis karena hanya mengukur kemampuan diri sendiri. Apa yang bisa kita andalkan kalau kita tidak memohon pertolongan Allah “Azza wa Jalla?

Oleh sebab itu, jangan heran jika orang yang tidak mengenal Allah akan merasakan keletihan dalam hidupnya.  Ia mudah goyah dan lemah serta tidak mampu melakukan hal yang bermanfaat.

Sesekali kita mungkin kesulitan untuk memunculkan sesuatu yang membuat diri kita tangguh. Padahal, ketangguhan, kehebatan dan ketenangan akan menjadi lebih prima ketika kita mengenal Allah.  Inilah sumber kekuatan yang tidak pernah terputus dan yang membuat hidup ini selalu bergairah dan menggebu.

Kita berpacu dengan sisa umur.  Mungkin besok lusa kita akan mati.  Jika kita tidak mampu memberikan  yang terbaik, maka anak, istri dan lingkungan kita akan kecewa.

Oleh karena itu, siapa pun yang berani jujur dalam hidup dan merasakan hidup ini belum beitu memuaskan, maka hendaklah ia merenung.  Mungkin ia tidak bersungguh-sungguh kembali kepada Allah.

Hendaknya kita sadar bahwa jauh dari agama berarti dekat dengan segala persoalan yang memusingkan.  Jauh dari ibadah, berarti kita melilitkan diri kita pada persoalan yang tidak ada putusnya.

Memang benar, semua orang memiliki dan menghadapi persoalan.  Akan tetapi, orang yang beribadah akan mengalami pandangan dan keyakinan yang berbeda dengan orang yang jauh dari ibadah.

“Wa man yattaqillaaha yaj allahu min amrihii yusroo.”

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS Ath Thalaq [65] : 4)

Begitulah, bagi orang-orang yang mau taat dan dekat kepada Allah, Allah akan memberikan jalan keluar.  Kita memang akan dibelit persoalan, tetapi jalan keluar – yang dapat kita duga maupun tidak dapa kita bayangkan – akan selalu terbentang di hadapan kita.

Namun, ketika kita jauh dari Allah dan tidak mengerti bagaimana mendekat kepada Allah, maka bersiap-siaplah menikmati kesulitan hidup; berpindah dari satu persoalan ke persoala yang lain.  Kaki menginjak satu persoalan, kepala dihimpit persoalan lain.  Kita menderita stres, capek dan letih.  Padahal, esok lusa ajal mungkin akan menjemput.

Oleh karena itu, hendaklah saat ini kita bangkit dan menikmati hidup dengan baik dan benar.  Kita berusaha menjadi orang yang tangguh dan kuat.  Ini bisa diwujudkan ketika kita mengenali ilmu taat dan mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

3.       MEMBERSIHKAN HATI

Suatu saat mungkin terlintas dalam pikiran kita,”Bukankah saya sudah shalat, shaum, zakat dan haji? Akan tetapi mengapa kok rasanya sulit sekali mendekatkan diri kepada Allah?”

Tentu saja mendekat kepada Allah tidak cukup dengan gerakan-gerakan lahir.  Faktor terbesar yang membuat seseorang selalu merasakan indahnya bersama Allah aadalah,

“Yawma laa yanfa’u maalun walaa hanun, illa man atallaha bi qalbin salim.”

“di hari harta dan aanak laki-laki tidak berguna, kecuali orang –oarng yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Qs Asy-Syu’araa, [26] : 88-89)

Ternyata, kecepatan terbesar yang membuat kita dapat merasakan indahnya dekat dengan  Allah – walaupun ilmu dan amal kita sedikit – adalah qalbun salim, hati yang bersih.

Ada sebuah pertanyaan yang sangat menarik;”Mengapa si A yang ahli tahajud, ahli shaum dan rajin beribadah ke masjid memiliki perilaku yang begitu menyakitkan. Mengapa kok perilakunay tidak sesuai dengan ibadahnya?”

Tahukah teman dan sahabat, inilah yang membuat seseorang terhalang untuk dekat kepada Allah.  Kalbu yang tidak bersih biasanya akan membuat perilaku kita tidak bersih, walaupun ibadah kita benar menurut perhitungan kita. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan ketrampilan untuk mengelola hati.

Memang benar, kita adalah manusia normal yang akan senantiasa menghadapi hal-hal yang tidak terduga dalam hidup ini.  Namun, hendaklah semua itu tidak menjadikan hati kita keruh dan kotor. Semakin keruh dan kotor, kita akan semakin mudah terluka dan tersinggung.  Walhasil, kita pun akan mudah merasa runyam dan pusing.  Sementara hijab yang menutupi kita dalam mengenal Allah semakin besar.  Kita akan dibuat lemah oleh pikiran kita sendiri.

Oleh karena itu, hendaklah kita menghilangkan segala sesuatu yang membuat hati kita jengkel.  Coba kita perhatikan air yang di dalamnya ada kotoran mengendap,  maka jika diaduk-aduk air tersebut akan menjadi keruh. Perbuatan dalam air yang keruh, yakni hati yang kotor, tidak akan menjadi baik dan benar.

Kita harus berlatih untuk mengendalikan hati kita. Semakin lama kita berusaha untuk melatihnya, semakin jernih hati kita.  Suatu saat, kita akan merasakan kesejukan hati dan menjalani kehidupan yang indah. Tidak ada yang sulit dan rumit, semuanya akan tampak begitu menyenangkan.

Sebaliknya, jika kita tidak mau melatih diri dan senantiasa memelihara hati kita dalam kekotoran, maka kita akan merasa diri ini seolah-olah masuk dalam lingkungan yang berisi ular, singa dan binatang buas lainnya.  Setiap kita melangkah, akan cemas, takut dan lelah. Padahal, seharusnya yang kita lihat adalah anggrek, melati dan mawar. Inilah kehidupan sebenarnya dan harus kita jalani, walau sesulit apa pun.

Orang yang berhati bersih akan dijanjikan Allah,” Qad aflaha man zakkaaha, wa qad khaaba man dassaahaa.”

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” (QS Asy-Syams [91] : 9)

Dengan hati yang bersih, kita akan mengenal Allah dengan baik. Jika mengenal Allah dengan baik, kita akan memiliki kekuatan dan kemampuan.I nilah yang dapat membuat kita berbuat sesuatu yang lebih hebat dari yang kita duga.

Memang, inilah arti dari hidup di dunia ini; menjadi hamba Allah dan menjadi khalifah di bumi dengan berbuat sesuatu yang bermanfaat.  Hidup di dunia bukan sekedar mampir belaka, ada bekal yang harus kita siapkan, dan karya yang harus kita tingglakn, bagi kehidupan di dunia dan bermakna di akhirat. Wallahu a’lam.

Image

KHALIFAH UMAR DAN GADIS JUJUR

Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang  malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati  sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.

Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang  mereka bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.

“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu.

“Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.”

“Benar anakku,” kata ibunya.

“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan  gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.

“Hmmm….., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari  hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,”  kata ibunya.

Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang  sudah terisi susu.

“Nak,” bisik ibunya seraya mendekat. “Kita campur saja susu itu dengan air.  Supaya penghasilan kita cepat bertambah.”

Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah itu  begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa  sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.

“Tidak, bu!” katanya cepat.

“Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air.” Ia  teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang  kepada pembeli.

“Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan  tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” gerutu ibunya kesal.

“Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku  curang pada pembeli?”

“Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam  begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan  kita,” kata ibunya tetap memaksa.

“Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”

“Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala  perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya,”tegas anak itu. Ibunya  hanya menarik nafas panjang.

Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun,

jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.

“Aku tidak mau melakukan ketidak jujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,”kata anak itu.

Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya  menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.

Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.

“Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam khalifah Umar. Khalifah Umar  beranjak meniggalkan gubuk itu.Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

Keesokan paginya, khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di  ceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu. “Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata  khalifah Umar. ” Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur  seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha  Melihat.”
Ashim bin Umar menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan ditangkap karena suatu kesalahan.

“Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual  susu. Tuan jangan tangkap kami….,” sahut ibu tua ketakutan.

Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak  menyunting anak gadisnya. “Bagaimana mungkin?Tuan adalah seorang putra khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin  seperti anakku?” tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.

“Khalifah adalah orang yang tidak ,membedakan manusia. Sebab, hanya  ketawakalanlah yang meninggikan derajad seseorang disisi Allah,” kata Ashim  sambil tersenyum.

“Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.

“Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar  pembicaraan kalian…,” jelas khalifah Umar.

Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai  seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.

Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun  kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab, yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Teman dan Sahabat, kita baru saja belajar tentang Kejujuran dari kisah di atas. Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akantetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan
belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.

Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalahjujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri.

Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Saw, “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”

Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.

Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yangtinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah.

Dalam kehidupan sehari-hari –dan ini merupakan bukti yang nyata– kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah atau berinteraksi dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat.

Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya.
Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.

Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana firman-firman Allah Swt. yang berikut, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. at-Taubah: 119)

Apabila kita sekalian mengamalkan sikap jujur dan benar dalam setiap ikhtiar kita, niscaya tidak akan ada kasus tabung gas meledak setiap hari karena dioplos, yang merenggut banyak nyawa orang-orang tak berdosa, penyelundupan bbm, penjarahan hutan, penyelewengan raskin dan BLT, korupsi APBN/APBD. serta kasus-kasus mega korupsi lainnya,  insya Allah, wallahu ’alam.

CERAH HATI LIFE MANAGEMENT (Dakwah, Motivasi, Training, Konseling, Book Writing)

Image

Suatu hari seorang teman saya, namanya Firman dalam sebuah obrolan di rumah, memberi sebuah kesimpulan yang saya tidak duga, yaitu rezeki dari Allah itu tidak pernah salah alamat. “Maksudnya apa Man?” tanya saya jadi pingin tahu lebih mendalam. “Begini Kang, kalau saya lihat supir-supir angkot kalo’ lagi narik kan suka belok sama berhenti seenaknya.  Suka bikin pengguna jalan lainnya jengkel. Menghalangi jalan, bikin macet, suka serempeten. Udah gitu penumpang yang diuber-uber ya segitu aja. Tapi nih Kang, saya pernah naik mikrolet dari Senen ke Kampung Melayu. Supirnya udah rada tua. Narik angkotnya kaya’ orang yang ngga’ butuh penumpang.” Firman ngomong dengan penuh semangat. “Kaga’ butuh penumpang kaya’ gimana?” tanya saya pingin tahu lebih jauh.

“Iya tuh, dia ga’ pernah ngetem  nungguin penumpang. Kalo ngga’ ada yang nyetopin dia engga’ berhenti.Tapi penumpangnya sepanjang perjalanan ngga’ pernah kosong. Kalo ada yang turun, ada juga yang naik. Eh anehnya, waktu ada mikrolet lain nyalip dia buat ngambil penumpang, itu calon penumpang malah naik mikrolet dia.” Jelas Firman. “Iya Man, rezeki mah udah ada yang ngatur. Yang penting kita istiqomah dalam berikhtiar mencari rezeki di jalan yang benar, penuh kesabaran dan syukur, maka Allah pasti memberikan rezeki yang memang sudah dipersiapkan buat kita itu kepada kita.”Kata saya sembari nambahin penjelasan.

Teman saya yang lain, Bayu, juga ikut nambahin. “Bener Kang, coba kalo kita amatin. Kalo kita bercukur, maka terbesar kemungkinan tukang cukurnya berasal Garut. Kalo kita nemuin tukang “rokok” yang ada di pinggir jalan atau yang ada di ujung dari gang perumahan kita, maka bisa diperkirakan kebanyakan mereka dari Kuningan, Jawa Barat. Begitu juga Kang, tukang tambal ban di pinggir jalan, kebanyakan mereka ya dari Tapanuli.

Tukang kredit keliling yang suka muter di perumahan, dari Tasikmalaya.” “Kamu punya penjelasan Yu?”tanya saya. “Begini, setiap orang itu akan mendapat rezeki dari keterampilan yang dimiliki. Orang Garut yang punya ketrampilan mencukur, maka ia akan membuka usaha cukur rambut. Jadi orang lain akan membayar atas jasa atau ketrampilan dan jerih payah kita. Sama juga halnya dengan kita. Keterampilan atau keahlian apa yang kita miliki dan kita “jual” sehingga orang lain mau mengeluarkan uang atas jasa penggunaan keahlian atau keterampilan kita.”Bayu menjelaskan dengan penuh semangat.

Jadi dari obrolan tadi, intinya jangan pernah berharap rezeki akan datang begitu saja tanpa ada satu usaha untuk menunjukkan  satu keterampilan atau keahlian yang kita miliki. Lebih dari satu keterampilan atau keahlian yang kita miliki, insya Allah akan lebih pula yang bisa kita dapat. Tidak punya keterampilan satu pun, siap-siap gigit jari karena kesempatan selalu terlewat begitu saja tanpa bisa kita raih. Bahkan untuk menjadi Office Boy (OB) sekali pun  memiliki keterampilan khusus yang menjadi prasyarat agar bisa diterima sebagai OB.

Dari obrolan ringan-ringan berat tadi saya jadi punya bahan untuk saya sampaikan kembali kepada teman-teman yang suka pada ngumpul di Masjid sehabis lepas Shalat Maghrib.

Kalau dari obrolan teman-teman saya Firman dan Bayu saya bisa simpulkan bahwa cara mencari rezeki tadi adalah rezeki yang bisa diduga, terukur, persis seperti orang kerja di pabrik, kantoran, menjadi guru atau dosen, bahkan para pensiunan  dan sebagainya. Tanggal 25 atau tanggal 1 setiap bulannya sudah diperkirakan akan dapat sejumlah gaji atas imbalan kerja kita selama satu bulan. Bahkan kalau ada potongan seperti hutang atau kas bon pun bisa diperkirakan besarnya gaji yang kita peroleh sisanya.

Nah, bagaimana ceritanya dengan rezeki lain yang sifatnya tak terduga? Memangnya ada? Mari kita belajar dari kisah, katakanlah dari seorang yang saya kenal, namanya Budiman. Budiman ini sekitar tahun 2006 lalu baru saja menyelesaikan pembangunan rumahnya, setelah sekitar dua belas tahun menikah. Biaya mendirikan rumahnya itu lumayan besar dengan dua lantai, yang selama proses pembangunannya banyak diwarnai serangkaian “keajaiban-keajaiban” yang sampai sekarang sulit dicerna oleh akal Budiman dan istrinya. Dengan modal awal uang simpanan hanya 40 juta, selesailah rumah seharga kira-kira 10 kali lipat dari modal awalnya.

Memang sih ada juga dia pinjam duit sama temen dan keluarga buat bayar ongkos tukang yang mesti dibayar setiap sabtu sore. Karena duitnya baru keluar minggu depan ya pinjam dulu. Baginya yang penting upah tukang kebayar dulu. Selama proses pembangunan rumahnya hingga selesai tidak pernah sehari pun macet. Singkat kata selesailah pembangunan rumah itu dalam tempo 6 bulan,

Suatu sore sekitar jam 4 sore sehabis Ashar di hari Minggu di waktu Budiman lagi merapihkan tanaman di halaman kecilnya, Budiman kedatangan seseorang yang rupanya supir dari mertuanya yang sudah bekerja di mertuanya sejak istrinya masih sekolah SMP. Rupanya pak  sopir itu membawa surat titipan dari Ibu Mertua, yang ketika dibuka dan dibaca isinya berita bahwa anak dari pak sopir tadi mau dioperasi tumor di payudaranya dan membutuhkan biaya. Untuk itu dimohonkan kepada para anak menantunya untuk bersedia patungan nambahin meringankan pembiayaannya.

Budiman bertanya kepada istrinya,”Mah, kira-kira kita masih ada uang ngga’?” Maklum, setelah selesai bikin rumah, semua uang tabungan bahkan kalung sama cincin istrinya juga habis. “Ada sih Bang, kalau sampai habis bulan sih cukup deh. Memang Abang mau bantu berapa?”Jawab istrinya. “Bagaimana kalau 500 ribu, ada ngga?”Kata Budiman lagi.”Ada Bang”kata istrinya. “Ya sudah kita bantu segitu, Bismillah saja, semoga jadi barokah.”kata Budiman sambil memasukan uang 500 ribu ke amplop dan diberikan kepada pak sopir.

Besok paginya, hari senin sekitar pukul setengah enam, diwaktu Budiman baru saja menghirup kopi sebelum berangkat ke tempat kerja, telepon di rumah berdering. Ternyata dari Uwak istrinya yang tinggal di Ciamis. Uwaknya tersebut memberikan kabar bahwa kakaknya Uwak sedang menuju Jakarta, khusus ingin menemui istri Budiman yang katanya mau ngasih uang sebesar 5 juta, bagi-bagi habis jual tanah di kampungnya di Ciamis, sebagai hadiah buat ponakannya.

MasyaAllah, belum sampai 24 jam Budiman dan istri menginfakkan uang sebesar 500 ribu untuk membantu biaya operasi anak pak sopir mertuanya, Allah sudah menggantinya sebanyak 10 (sepuluh) kali lipat. Benar Firman Allah,”   Wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib.” “Dan Allah akan memberi rezeki dengan cara yangtidak diduga-duga.” (At-Thalaq:3)

Dari kisah di atas apakah kita juga bisa meraih rezeki tak terduga seperti itu? Mengapa tidak?

Mari kita coba saja langkah-langkah berikut ini;

Pertama, Gemar beristighfar, mohon ampun kepada Allah, taubat. Itulah ikhtiar kita. Sebuah usaha yang jarang ditempuh oleh kebanyakan orang. Ikhtiar yang menurut kebanyakan orang, termasuk juga saya, hanya akan mendatangkan maghfirah dan ampunan Allah SWT. Namun, siapa menyangka, saat manusia membutuhkan karunia Allah Yang Maha Kaya, saat nafkah terasa berkurang, mungkin saja disebabkan kita belum menyambut “ampunan” Allah SWT. (QS Hud:11 ayat 3))

Kedua, Gemar Bersedekah. Seorang Ustadz, teman saya, berkata, bahwa kalau pingin rezeki lapang dan selalu ada saat kita membutuhkan,…maka jangan lupa untuk menolong orang. Coba deh,…berbagi dengan sesama. Sebab, rezeki Allah bisa kita dapatkan , kita raih, kita beli dengan cara berinfak.  Di dalam Hadits Qudsi, Allah memastikan eksistensi (keberadaan) sebuah hukum kausalitas, hukum sebab akibat. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman,”wahai anak Adam berinfaklah, karena sebab berinfak engkau akan mendapatkan nafkah!”(Muttafaq Alaih)

Ketiga, Bersilaturahim.  Silaturahim memperbanyak rezeki. Bersilaturahim selain merupakan aktifitas sehari-hari yang memiliki kekuatan ibadah, juga bermanfaat untuk memperbanyak relasi, dan menambah usia serta menambah rezeki.  Dalam konteks ilmu komunikasi silaturahmi dapat dikatakan sebagai membangun jaringan atau networking.

Keempat, Bertaqwa secara istiqomah. Berbicara masalah taqwa, berarti berbicara masalah keyakinan atau pekerjaan hati (A’malul Qulub). Seseorang bisa dengan mudah bergonta-ganti pakaian, sepatu, sarung, atau kendaraan, tapi tidak akan benar-benar mudah berganti keyakinan baru.  Orang yang tidak memiliki keyakinan tidak akan sulit menerima suatu sugesti atau keyakinan yang keyakinan yang datang kepadanya, misalnya jimat, petuah paranormal dst.

Sebaliknya seseorang yang memiliki keyakinan yang kuat, akan lebih sulit untuk berpindah dari suatu keyakinan kepada keyakinan yang lain.

Didalam Al-Qur’an Alah SWT berfirman,”Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia memberi rezeki dari jalan yang tidak diduga-duga.” (QS At-Thalaq:2-3)

Ke lima, Istiqomah Shalat Dhuha. Orang yang gemar melaksanakan Shalat Dhuha karena Allah, akan diberikan  kelapangan rezeki oleh Allah. Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadits Qudsi dari Abu Darda’ bahwa Allah berfirman:”Wahai anak Adam, rukuklah (shalatlah) karena Aku pada awal siang (shalat Dhuha) empat rakaat, maka Aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore hari.” (HR Tirmidzi)

CERAH HATI LIFE MANAGEMENT (Dakwah, Motivasi, Training, Konseling)

Image

TENTANG DANU KUSWARA (KANG DANU)

DSC_0409Danu Kuswara, yang akrab dipanggil dengan Kang Danu, lahir di Jakarta. Sehari-harinya disibukkan dengan kegiatan memberikan Konseling, memberikan Motivasi,  Pencerahan dan Pelatihan (Training) di Perkantoran, Masjid, Majelis Taklim, Perumahan, Perkumpulan, juga mengisi siaran motivasi dan inspirasi spiritual di RRI Pro 2, 105 FM Jakarta, dan Bahana 101.8 FM Jakarta.

Di bulan Ramadhan mengisi juga siaran Sahur, “Sahur Bersama Ustadz” di RRI Pro 1, Pro 2 dan Pro 4, serta acara bedah lagu Religi, “Syair Bersyiar” di RRI Pro 2 FM.

Kebiasaannya menulis naskah atau artikel untuk bahan-bahan siarannya, ternyata menghasilkan banyak tabungan artikel.  Tabungan artikel itulah yang secara bertahap disajikan kepada masyarakat luas, terutama para pendengar RRI Pro 2 FM dan Bahana FM, agar dapat dinikmati lebih mendalam lagi, melalui jejaring sosial facebook dan multiply, twitter dan BBM

Mendirikan dan mengelola sebuah majelis kajian untuk saling belajar dan mengaplikasikan nilai-nilai agama yang bernama “Komunitas Cerah Hati” serta bercita-cita ingin membangun dan mengelola sebuah pesantren tahfidz Qur’an  terpadu, yang diperuntukkan bagi anak yatim piatu kurang mampu dan anak dhuafa.

Saat ini membina TPA dan tahfiz Qur’an gratis bagi anak-anak yatim piatu kurang mampu dan dhuafa serta kalangan umum.

Baru saja menyelesaikan dan menerbitkan penulisan buku yang merupakan kumpulan materi ceramah  di RRI Pro 2 FM dan Bahana 101.8 FM berjudul: SUKSES  PENUH  KEBERKAHAN.
Sedang menyusun buku berikutnya dengan Judul :  “Semangat Pantang Menyerah; Sebuah Teladan Kehidupan  Sarat Makna.” dan “Menjadi Orang yang Beruntung.”
Penceramah dapat dihubungi di HP 085697506399, 021-34635546, PIN BB: 2914BFE3, atau di e-mail: danucerahhati@yahoo.com serta facebook: danu kuswara

Image

Pada suatu waktu ada seorang pimpinan sebuah perusahaan nasional sedang berlibur di Bali dan sampailah ia di sebuah pantai. Di suatu sore itu, sang Direktur tadi, pada saat ia sedang berjalan-jalan menyusuri pantai menanti sunset, matanya terbentur pada sesosok pemuda berpakaian seadanya (maklum di pantai, yang lumrah kita jumpai bila kita sedang di Kuta, Bali), sedang bemalas-malasan di atas bale-bale di pinggir pantai itu.

Sang Direktur yang sudah terbiasa bekerja keras sejak muda merasa terusik dengan aktivitas pemuda tersebut. Pikirnya, kalau saja para pemuda bangsa ini kerjanya hanya tidur-tiduran dan bermalas-malasan seperti ini, bagaimana mungkin negara ini bisa maju? Ia pun segera menghampiri pemuda itu.”Mas sedang ngapain Anda?” ia bertanya.

Pemuda tersebut menoleh dan malah balik bertanya,”apa Bapak nggak melihat saya sedang tidur-tiduran?” Meski pun dengan menahan perasaan geram, sang Direktur berusaha menahan diri. Pikirnya anak muda ini belum mengerti hakikat hidup yang harus dijalani manusia. Sang Direktur yang telah mengecap setumpuk asam garam kehidupan pun merasa terpanggil untuk menyadarkannya. “Mas, apa kamu tidak bekerja.?

“Untuk apa.”tanya si pemuda

“Ya, supaya kamu bisa membeli barang-barang yang kamu butuhkan. Supaya kamu bisa punya tabungan, punya rumah. Supaya di saat tua nanti kamu bisa menikmati hidup dan tidur bermalas-malasan seperti sekarang ini.” Jelas sang Direktur dengan nada tinggi menahan geram namun tetap masih menahan diri.

“oh, iya? Lantas, apa Bapak nggak melihat apa yang sedang saya lakukan?”balas si anak muda.

Teman dan sahabat, anda mungkin sudah pernah mendengar atau membaca cerita menggelitik di atas. Saya juga tak tahu sumber asalnya dari mana. Namun cerita di atas saya kutip sebagai pengantar tulisan saya seterusnya. Tanya jawab sang Direktur dengan anak muda di atas menunjukkan bahwa makna hidup bagi setiap manusia tidak sama.

Seorang Direktur yang sarat pengalaman memandang bahwa hidup harus diisi dengan kerja keras agar bisa bersantai-santai ketika usia sudah senja. Ibarat pepatah, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Sementara, anak muda yang masih minim pengalaman merasa tidak perlu bekerja keras. “Buat apa kerja keras, selagi muda, nikmati saja hidup,” begitu kira-kira yang ada dikepalanya. Bahkan ada slogan yang tertera di kaus souvenir Joger,”Muda foya-foya, Tua kaya raya, Mati masuk Surga.”

Beberapa waktu lalu ada seorang teman yang meminta doa memohon pembuka rezeki. Menarik sekali bagi saya, karena ternyata masih banyak diantara kita yang memandang bahwa disamping kita harus bekerja keras, bekerja cerdas, tetap membutuhkan pertolongan Allah yang Maha Kuasa dalam setiap ikhtiarnya. Suatu pertanyaan yang harus diapresiasi.

Ada doa yang diajarkan leh Rasulullah SAW tentang pembuka jalan rezeki,
Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazani, wa a’udzubika minal ajzi wal kasali, wa a’udzubika minal jubni wal bukhli, wa a’udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal.”
Yang artinya,”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan hati dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, Aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari himpitan hutang dan tekanan orang lain.”

Doa ini memotivasi kita bahwa pembuka jalannya rezeki bisa dikategorikan ke dalam 4 jurus.

1. TERLINDUNG/TERBEBAS DARI KEGUNDAHAN DAN KESEDIHAN

Kegundahan dan Kesedihan timbul dari sifat peragu. Kegundahan atau kebimbangan timbul dari akibat tidak adanya pegangan hidup. Tiadanya pegangan hidup menjadikan hidup berjalan seperti air mengalir. Ada kalanya dia berbelok kekiri atau ke kanan karena ada hambatan dihadapannya. Ada kalanya ia berhenti karena terhalang jalan untuk keluar, sehingga ia tidak kemana-mana.

Kerja keras yang dijalaninya hanya akan mengakibatkan kelelahan fisik dan mental. Banyak orang yang berkata,”waktu dua puluh empat jam sehari seakan tidak cukup buat saya. Waduh, saya enggak ada waktu nih.” Pada lain kasus banyak orang kalut dan sedih berkepanjangan ketika usahanya diujung kebangkrutan. Panik dan sejenisnya.

Jenis orang yang seperti ini sudah dipermainkan oleh waktu. Bukan dia yang mengelola dan memanage waktu tetapi waktulah yang mempermainkannya.

Dia mengejar dunia, dan dunia yang dikejarnya semakin menjauh darinya.

Di dalam Hadits Qudsi Allah berfirman kepada dunia,”Layani mereka yang melayani Aku, Cintailah mereka yang mencintai-Ku, dan tinggalkan mereka yang menjauhi-Ku.” Makanya taklukkan waktu, kelola waktu, mana alokasi waktu untuk bekerja, mana alokasi waktu untuk ibadah.

Maka untuk bebas dari kegundahan dan kesedihan, carilah dan genggam kuat pegangan hidup. Peganglah yang memberi hidup, peganglah yang Maha Pemberi Rezeki.

2. TERLINDUNG/TERBEBAS DARI KELEMAHAN DAN KEMALASAN

Kelemahan dapat disebabkan karena tidak adanya atau minimnya ilmu, skill dan jaringan yang dimiliki. Secara kualitas seseorang tanpa ilmu dan skill dapat digolongkan sebagai orang yang lemah. Dan dari kelemahan itulah timbul sifat malas.

Di dalam Al-Qur’an surat Ar Rad [13] : 11, Allah SWT berfirman,”Sungguh, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya.”

Banyak yang mengaku sebagai orang Islam, tetapi perbuatan mereka tidak mencerminkan sebagai seorang Muslim. Ketika Rasulullah bersabda,”Tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah,” pada kenyataannya banyak saudara kita lebih memilih menjadi peminta-minta ketimbang bekerja membanting tulang.

Coba saja kita saksikan pemandangan di perempatan kota besar seperti Jakarta. Hampir di semua lampu merah, kita bisa menyaksikan tangan-tangan “di bawah” menengadah meminta sedekah, bahkan tak jarang yang meminta dengan paksa. Ada pula pengemis berjas dan berdasi yang meminta-minta sambil membawa proposal progarm A atau program B. Orang jenis ini adalah orang yang malas mencari rezeki dijalan Allah. Mereka membuat rencana kerja fiktif, membobol bank dan akhirnya kabur keluar negeri.

3. TERLINDUNG/TERBEBAS DARI SIFAT PENAKUT DAN KIKIR

Penakut adalah tingkatan yang advance dari peragu. Ragu memulai usaha karana takut rugi. Ragu melamar pekerjaan karena takut tidak diterima. Tetapi ragu dan takut juga melanda seorang yang sudah bekerja. Takut untuk bermimpi menjadi pegawai yang lebih tinggi posisinya. Pengusaha yang sudah berjalan usahanya ragu untuk mengembangkan karena takut tidak tertangani nantinya.

Ini membutuhkan transformasi mental. Transformasi mental bisa didapatkan karena memiliki keyakinan yang kuat. Keyakinan bahwa setiap ikhitiar kita akan selalu mendapat lindungan dari Yang Maha Kuasa, selama kita meniatkan ikhtiar yang kita jalani untuk ibadah. “Inna Sholati wanusuki wa mahyaaya wa mamaati Lillahi Robbil ‘Alamin.”

Sikap kikir hanya akan menjerumuskan seseorang ke lembah kenistaan. Harus diingat kekayaan yang dicari sampai setengah mati, siang jadi malam, malam jadi siang, tidak akan berarti apa-apa kalau dia meningal dunia. Yang dibawa hanya dua lembar kain yang enggak laku dijual selain buat membungkus mayat, kain kafan.

Untuk memperlancar datangnya rezeki maka banyak-banyaklah berbagi, berinfak, bersedekah. Ingat filosofi terowongan? Air akan terus mengalir apabila kedua mulut terowongan terbuka. Sebaliknya kalau satu mulut terowongan tertutup, maka air akan berhenti mangalir, perlahan menjadi bau, menjadi sarang penyakit.

4. TERLINDUNG/TERBEBAS DARI HIMPITAN HUTANG DAN TEKANAN ORANG LAIN

Salah satu jalan pintas dalam mengatasi kesulitan ekonomi, bagi sebagian banyak orang, adalah dengan berhutang. Bagaimana bayarnya? Bagaimana entar aja. Begitu jawabnya. Celakanya berhutang itu digunakan untuk keperluan konsumtif. Memang ada keperluan konsumtif yang rasanya baik dengan jalan berhutang, contoh, cicil rumah dengan KPR.

Hutang yang menjadi bencana adalah hutang bermajemuk dengan tingkat interes yang tinggi, seperti kartu kredit. Buat ngopi di Mall ngegesek, bahkan cuma buat beli kaos kaki ngegesek. Tagihan nggak kebayar didatangi debt collector. Stress. Tingkatan hutang yang terhitung top adalah hutang jangka pendek berbunga tinggi dari rentenir. Hutang nggak kebayar, rumah hilang.

Nah dari hutang yang demikian, seseorang tidak bisa bebas dan selalu under control orang lain. Susah untuk bergerak, susah untuk berproduksi, bawaannya was-was, deg degan, stres dan kemudian bunuh diri. Oleh karenanya saat ini banyak tumbuh lembaga pembiayaan mikro syariah seperti BMT (Baitul Maal wat Tamwil) amat sangat membantu kaum Muslimin yang butuh pemberdayaan.

Oleh karenanya doa yang diajarkan oleh Rasulullah sungguh doa yang memiliki tingkat inspirasi dan motivasi yang tinggi. Dengan bersandar kepada Allah apabila menghadapi kesulitan hidup, masalah ekonomi keluarga, perkuat ibadah shalat wajib dan tahajjud serta bertawakkal. Janji Allah,”Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, Allah akan memberinya jalan keluar baginya (atas segala kesulitan dan permasalahan). Dan memberikannya rezeki tanpa diduga.” QS Ath-Thalaq:2-3).

CERAH HATI LIFE MANAGEMENT  (Dakwah, Motivasi, Training, Konseling)